Baru beberapa hari yang lalu saya nonton acara “Apa kabar Indonesia” di TV One. Salah satu topiknya membahas tentang larangan terhadap artis yang berpenampilan kewanita-wanitaan (banci) di TV. Pada sesi itu hadirlah dari pihak KPI, Psikolog anak, dan perwakilan artis yang diwakili Tessy yang kita tahu ia selalu berlakon banci ketika tampil di acara TV. Momen bulan puasa ini dijadikan alasan pihak KPI tersebut. Psikolog anak tersebut juga secara menggebu-gebu menjelaskan dampak negatif tayangan banci tersebut ketika ditonton oleh anak-anak. tampaknya si Ibu ini trauma kalau2 anaknya ikut2an jadi banci. Tampak sekali pada saat itu mas Tessy kehabisan kata untuk mengelak dari tudingan tersebut. Terang saja, yang dihadapinya adalah yang berkompeten dibidangnya. Intinya sang psikolog yang mewakili ibu-ibu Indonesia setuju terhadap kebijakan KPI tersebut.
Efeknya cukup cepat dirasakan. Disalah satu stasiun TV saja saya melihat, Olga yang biasanya berkostum cewek sekarang menggunakan pakaian lazimnya laki-laki, waaupun tidak bisa menyembunyikan gayanya yang emang sedikit kebanci-bancian. Demikian pula Tessy. tak tampak lagi ciri khasnya dengan pakaian wanita. Sangat disayangkan memang. KPI seperti menghentikan mata pencaharian seseorang. Mereka (KPI) menjatuhkan artis2 yang pada saat itu memang sangat booming. Pertanyaan yang muncul adalah, Kenapa baru sekarang merasa terusik.? Saya merasa fenomena ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. kemana aja?
KPI memang punya wewenang untuk menyeleksi tayangan yang ada, tapi juga mesti arif dan bijaksana,toh tayangan yang justru menyesatkan, berbau pornografi juga tetap tayang. Bahkan di waktu2 prime time. Mungkin itu jadi PR yang besar juga…